For All The Gorgeous People In The World

Welcome to my stories. Here I wanna share you all about the stories that I have. It depends on the situation, and it depends on the labels. It can be my own story, it can be like an unreal story, and it may be Your story here. Just enjoy reading it-----> It's absolutely just for fun, don't take it too serious, make it simple, easy, interesting and enjoying for you. Love -@novialuciana
Tampilkan postingan dengan label sepenggal cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepenggal cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Agustus 2011

Kala...

Aku berteriak sekencang-kencangnya di puncak gunung Mount Everest, ia...namanya berkali-kali terdengar menggema memenuhi hamparan warna hijau di depan pelupuk mataku. Seandainya memang Mount Everest yang kutuju, tapi sebenarnya hanya puncak bukit di kota kecil berpenduduk tidak lebih dari 200.000 juta jiwa bernama Perugia. Iyaa, aku berada di Italy, rumah nenek-kakek dari Ayahku, kau tahu aku melarikan diri dari mereka semua yang mencintaiku (mungkin).

Sebulan yang lalu,

"Kala, kita harus bicara..."

"Lagi?"kataku pada seorang pria tampan.

"Kau tahu, kita selalu punya masalah yang sama setiap saatnya..."katanya terputus.

---terdengar langkah kaki dari lantai bawah menuju kamarku, aku terdiam sejenak, memastikan bukan Ayahku yang membuka pintu. Memang bukan, hanya Dorry, adik perempuanku.

"Mau apa kau?"

"Makan malam sudah siap, kami menunggumu, dan aku sangat lapar!"kata Dorry.

"Makanlah dulu, aku akan turun dalam waktu lima menit."

"Bukan lima jam, tapi lima menit!"kata Dorry dengan nada membentak, sungguh bukan adik yang baik.

Aku melotot ke arahnya, sedikit menggeram dan mengisyaratkan kalau aku sedang menerima telepon pentingm yahh mereka tahu siapa yang berada diseberang telpon sana.

"Louise lagi? Pasti menangis lagi setelah ini."kata Dorry mencibir sambil menutup pintu kamar dengan suara sangat keras dan turun ke bawah.

Hmmffffhhhhh...

"Louise, aku harus pergi, nanti kau ku telpon lagi setelah aku makan malam."

"Baiklah. Bye." Klik! Telepon terputus.

Makan malam berjalan begitu hening, hanya terdengar suara kelontengan garpu, sendok, pisau, piring, dan gelas. Aku terdiam seribu bahasa, pikiranku kacau, jantungku berdegup cukup keras ketika memikirkan apa yang akan Louise katakan nanti, bisa jadi adalah tentang hubungan kami, hubungan yang mungkin sebenarnya tidak pernah berjalan begitu baik dan normal. Pikirkan sendiri apa maksudku ini! Tiga puluh menit berlalu di dalam keheningan dan tatapan tajam dari seisi penghuni rumah, aku yakin Dorry kecil pasti sudah memberitahukan sesuatu pada Ayah dan Ibu. Umurnya memang masih lima belas tahun, tapi ia cukup mengerti jika ada yang tak beres dengan satu hubungan bernama cinta, dan sialnya, dia selalu mencoba menganalisis keadaanku. Shit!

"Lekas tidur, jangan menerima telpon malam-malam!"perintah Ibu diikuti anggukan Ayah.

Tanpa sepatah katapun terucap dari mulutku, aku segera berjalan lambat menuju kamar atas, tentu saja memastikan bahwa Dorry tak mengikutiku. Ku putuskan untuk mengunci kamar, menyalakan DVD player sedikit lebih keras, dan pergi ke balkon untuk kemudian menelpon Louise.

"Maaf, aku harus membereskan orang rumah dulu dan si kecil Dorry."kataku dengan nada datar dan tegang.

"Tak apa, aku tahu kok. Kala, apa suasana hatimu sedang bagus?"

"Biasa saja, ada apa?"

"Hanya ingin mengobrol denganmu saja, tampalnya aku sudah terlalu sibuk dengan diriku tanpa aku tahu bahwa hubungan kita semakin memburuk, maksudku tidak lagi seperti dulu, aku merasa hanya ada beberapa hal yang perlu aku luruskan."kata Louise, pria ini selalu saja menarik perhatianku, terutama saat ia harus menjadi pria dewasa seperti ini, dia akan berbeda.

"Ada apa sih? Jangan bilang kau ingin mengatakan sesuatu karena kau mendengar sesuatu pula dari dia, iyaa kan!"kataku sedikit membentak.

"Ia dan tidak, aku hanya sudah lama ingin membicarakanya."

"Tidak bisakah kau ini berbicara padaku atas kemauanmu sendiri???"kataku geram.

"Sudahlah, ini mungkin waktu yang tepat."

"Kau ini memang pengecut Louise!!!"kataku marah.

"Aku tahu, aku memang salah, aku tak pernah pandai berbicara soal perasaan, dan yang satu hal ini adalah penyakitku, jadi tolong maafkan aku!"katanya sedikit lebih tegas.

"Katakan apa yang kau mau?"

"Aku mau kita selayaknya saja."

"Kau pikir selama ini apa?"

"Tidak, biarkan aku membiasakan diri tanpamu, dan kau juga harus membiasakan diri tanpaku. Beri aku waktu untuk menjadi seorang yang benar kali ini saja Kala."

"Maksudmu?"

"Aku ingin sendiri."

Klik! Telepon terputus....

Perbincangan sebulan yang lalu itu sungguh membuatku terkejut. Melebihi segalanya, lubang hitam di hatiku mulai terbuka lebar lagi. Sudah sebulan semenjak kepergian Louise, satu-satunya teman di kala aku membutuhkan canda tawa ringannya, teman di kala aku ingin mengadu semua senang dan sedihku, dia memutuskan untuk pergi dari hidupku, entah sampai kapan dia akan kembali, dia tak pernah benar-benar berani berjanji.

"Kala, angin semakin kencang, ayo kita masuk, sudah mulai gelap juga rupanya." Itu suara nenekku dari kejauhan. Aku tersenyum dan memberi isyarat aku akan segera kembali.

Di belahan dunia yang jauh sekalipun darinya, aku masih tetap tidak bisa menghapus seorang Louise di buku hatiku. Dan di kota kecil ini, aku ingin kau tahu, tidak akan pernah manjadi mudah melupakan seseorang sepertimu. Kemudian hening.

Minggu, 14 Agustus 2011

A Hole in The Cold Winter Heart

Aku sedang terbaring lemah di singga sana tidurku. Tak henti-hentinya menitihkan air mata, sesekali menengok ke sudut kiri meja rias, mendesah, menghela nafas, dan kembali menangis. Foto itu sepertinya nampak begitu bahagia enam bulan yang lalu. Seperti aku sudah sangat siap menjadi Nyonya Andra Syahputra. Iyya...aku Regina, sembilan belas tahun dan sudah siap menikah dengan pacarku Andra Syahputra yang sudah menemaniku selama satu tahun. Memang sedikit gila karena di usiaku yan g masih sungguh belia dan dapat dikatan belasan, aku memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang telah aku kenal selama setahun.

Enam bulan lalu, tepat di Auston Park Italia semua berawal dan berakhir...

"Sayang, temui aku di Auston Park pukul lima sore, ada yang harus aku bicarakan.."

"Okeyy, aku kesana lebih awal, aku akan bertemu dengan bibi Shila terlebih dahulu."kataku.

"Mau apa bertemu Mama?"kata Andra datar.

"Kenapa? Kan itu sudah biasa sayang, aku menunggumu di Auston Park dan sebelum aku menemuimu, aku mengunjungi bibi Shila terlebih dahulu."kataku.

"Emmm, Gina, tidak usah kesana, kau langsung menemuiku saja." klik...telepon terputus. Hatiku sungguh gusar, tak biasanya ia menyebut nama panggilanku dengan jelas seperti itu.

Aku berjalan santai menyusuri jalanan pohon mangroove, dedaunan mulai berguguran, musim dingin akan segera tiba. Aku mendekap erat seluruh badanku, memastikan bahwa coat yang terpakai dibadanku sudah menutupi seluruh tubuhku. Di sudut kanan ada beberapa orang sedang sibuk mempersiapkan foto pre-wedding, aku tersenyum kecil, aku juga seperti itu satu bulan yang lalu. Tak pernah menyangka aku mengambil langkah sungguh berani, aku meng-iyakan pinangan Andra terhadapku, aku sungguh mencintainya, menyanyanginya dengan setulus hati, dan sungguh ingin hidup dengannya sampai akhir nanti. Tuhan terimakasih karena kau mempertemukanku dengannya.

Aku melanjutkan lagi jalan panjangku, tidak terlalu melelahkan memang, jarak antara apartemenku dengan Auston Park ini cukup dekat namun aku terbiasa memutar balik arah untuk melewati hutan mangroove ini, sungguh indah. Aku cukup penasaran apa yang akan dikatakan oleh Andra, menurutku semua persiapan nikah kami sudah sangat rapih, sudah 90% dan Andra-pun tahu. Baju pengantin sudah beres, katering sudah siap,m tempat sudah siap untuk dipakai, hanya kurang undangan saja yang belum disebar, hmmmm, ada apa yahh? Pikirku dalam hati.

"Ginaaaaa...."teriak seseorang dari jalan seberang. Oh, tidak!! Aku melamun, aku tak tahu kalau aku sudah sampai dan Andra sudah menungguku, tunggu...tak biasanya ia yang menungguku.

"Yaaa sayang, ada apa, tumben sekali kau ingin bertemu, aku rasa kita baru akan bertemu lusa karena kau bilang kau cukup sibuk minggu-minggu ini."kataku.

"Ada yang ingin kubicarakan, apa suasana hatimu sedang bagus hari ini?"

"Aku?? Biasa saja, yaaa bahagia, mengapa?"

"Gina, maafkan aku, kita tidak bisa menikah."kata Andra datar tanpa melihat mataku.

"Ke...kee...kenapa? Apa karena undangan belum tersebar? atau kau tak dapat cuti? Tenang sayang, aku bisa mengusahakannya aku bisa mengirim kurir, tenang yaaa.."kataku shock dengan nada suara bergetar.

"Bukan itu Gina, tidak ada masalah sama sekali, hanya saja, mungkin kita sebaiknya berteman saja. Semua biaya kerugian sudah aku ganti lewat rekeningmu, dan sekali lagi tolong maafkan aku..."kata Andra melangkah mundur lalu kemudian pergi.

hatiku terkoyak drastis, tak percaya melihat apa yang sedang terjadi padaku, begitu mudahnya ia menyelesaikan semuanya dengan uang, dia hargai aku sebesar harga kerugian pernikahan yang batal terjadi, dia menghargai cintaku semurah itu, dan dia menilai cintaku seperti itu. Aku lemas, aku bersandar lesu di bangku taman, pandanganku kosong, hatiku serasa berlubang,  dan aku seperti tak tentu arah. Aku melihat ke atas langit, dan mereka tahu isi hatiku, saljupun mulai turun. Winter kali ini sungguh menusuk ulu hatiku.

Kamis, 11 Agustus 2011

Aku Tahu Batasan Itu Akan Terlihat Jelas...

Sandra sedang bergelut dengan pikiran sekaligus hatinya. Sesekali ia bersembunyi di bawah bantal, dan sesekali ia melepaskan bantalnya dan berguling-guling tak tentu arah. Ruangan ini seketika seperti momok mengerikan. Seperti gua berhantu yang memaksanya untuk terus terjaga kalau-kalau ada hantu yang mau menerkamnya.

"Ahhh...Tuhan, sulit sekali rasanya untuk menidurkan pikiranku, aku sudah terlampau lelah..." sekali lagi ia memejamkan matanya yang bulat, dan kembali terbelalak. "Aku harus selesaikan ini, dengan pikiranku sendiri!!"

"Maicah, jadi ini kita?"kata Sandra.

"Yaa San, ini kita, semoga kita tetap baik-baik saja!"kata Maicah menegaskan.

"Maicah, pegangi aku, masih bisakah? Aku seperti sedang tak tentu arah."

"Kau harus mulai terbiasa berjalan tanpaku San, aku tahu kau bisa."

"Aku mohon, tepati janjimu, selalu ada bersamaku, jangan seperti lelaki lain, kau hampir mirip dengan mereka saat ini."

"Sandra, ini batasannya, aku mohon padamu, percayalah pada dirimu sendiri. Tanpa kau minta, aku masih selalu ada."

"Di mana? kau sudah mulai mengatakan kata perpisahan, aku benci kau!!"

"Aku akan selalu ada di hatimu, kau tak mungkin bisa membenciku, dan aku mohon, jangan membenciku, aku tak suka perpisahan, dan ini memang bukan perpisahan."

"Maicah, bagaimana jika aku membutuhkanmu?"

"Ingat tentang kita, kau akan kuat."

Percakapan singkat itu cukup membuat hati Sandra setengah berlubang, pikirannya hampa, ia merasa berada di ruangan kedap suara, dan mati. Sekarang, ia berjalan pincang, meski tak sepenuhnya pincang, ia terus memegangi hatinya. Sedikit tersenyum, karena ia tahu Maicah membalas menggenggam hatinya dalam diam.

Selasa, 19 Juli 2011

Senyum ini untukmu

Aku lupa aku sedang sungguh sangat marah pada orang yang memang tak memperdulikanku sedetikpun, aku lupa bahwa aku tak cukup punya hak yang nyata untuk mengomelinya ini itu, bahkan untuk sekedar bilang kau sungguh sangat menyebalkan saja aku tak punya hak. Jadilah aku disini terdiam seribu bahasa dengan pikiran campur aduk. Sejak saat itu aku memutuskan untuk mematikan seluruh aksesku menuju dunia maya. Blackberry Messanger, twitter, dan semua social networking yang dulu aku suka, saat ini berubah menjadi momok mengerikan untuk dikunjungi. Kau tahu, kau tak akan melihat facebook-ku, sudah saatnya aku melumpuhkannya sesaat (baca:deactive mode). Yaaaa...ini bukan yang pertama kali memang, puluhan juta kali kau membuatku seperti orang bisu dan seperti orang linglung, kau pesulap luar biasa, dengan sekejap kau mampu menghilangkan separuh bagian dari diriku, sayangnya...kau lupa mantra ampuh untuk mengembalikan itu semua.

"Gina, aku tak bisa menghubungimu lewat bbm, kau sedang apa?"

"Gina, ada apa dengan bbm-mu?"

"Hello Gin, I don't see you exist on your twitter lately, wuzzupp dear?"

Hummffhhhh....aku menghela nafas panjang, tak kukira mereka semua merindukan social networkingku dan bukan aku.  Aku melihat lagi ke arah layar blackberry ditangan kananku, sudah dua hari ini ia lumpuh, atau lebih tepatnya sengaja dilumpuhkan. Baterai yang biasanya sudah ludes dan harus di-charge satu jam sekali ini nampak masih awet saja dari kemarin. Maaf teman-teman, aku hanya bosan dengan semuanya, biarkan aku diam sejenak dan sendiri, kataku dalam hati. Dua hari yang lalu aku masih baik-baik saja, masih tertawa bahagia, masih bisa mentolerir beberapa temanku yang sedang jatuh cinta dan mendadak menjadi sedikit dorky, dan masih bersamanya. Tetapi itu semua berubah dalam hitungan detik saja nampaknya dan hanya karena empat huruf yang terlihat di kolom mention twitter milikku. Arrrgghhhhhh, what a shiiitttttt, pikirku. Aku tak menyalahkanmu atas perbuatanmu untuk berusaha berbuat adil, tapi dengarkan aku, kau tak punya hak untuk berbuat adil sebelum kau membuat keputusan. Dan perlu kau tahu, pikirkan dulu perkataanmu sebelum kau mulai melukai orang lain lagi.

Aku mulai berpikir aku harus keluar mencari udara segar. Aku ingin mencoba hidup sendiri, tolong kali ini aku hanya ingin sendiri. Sebelum ku matikan telepon genggamku, aku mengirimkan satu voice mail kepada ibuku, "Mom, I think I wanna go outside, looking for fresh air yaa, don't seek me, I'm better than okay, but I just wanna turn my phone off." Sent then power off!!!

Berkendara sendirian saja menurutku itu cool, setidaknya bagi cewek labil seusiaku yang biasanya meminta lelaki sang pujaan hati untuk menemaninya. Tidak, tentu saja tidak, aku tak mau selamanya sendiri, aku juga ingin menjadi cewek manja sehari saja seperti mereka kebanyakan. Berkali-kali aku memberi kode rahasia padanya, namun dia tetap tak mau mengerti, katakanlah ia berpura-pura tidak mengerti, baiklah. Jalanan siang ini nampak sedikit lenggang, akan ku arahakan kemana mobil ini? Jujur saja, aku tak pernah berani kemana-mana sendirian. Makan siang? Sendiri? Seperti bencana menurutku. Lalu apa? mencari makanan kecil? Tidak, aku sedang berdiet ketat, hmmmmm....pusat perbelanjaan sepertinya seru, sendirian? Oohhhh...Damn!!! I hate thisss. Baiklah, makan siang di cafe sajalah.

Setengah jam lebih aku berkutat dengan jalan raya menuju daerah perkotaan. Aku sengaja berjalan sekitar 20 kilometer sejam saja untuk memastikan rumah makan yang akan aku tuju tak terlewatkan. Yaaakkk, aku dapat tempat parkir kosong. Segera aku mempercepat laju mobilku, dengan canggihnya aku meng-atret-kan mobilku, parkirnya mulus, asyikkkk!!! Setelah memastikan semuanya terkunci aku mulai masuk ke rumah makan itu, aahhh...banyak yang berpasangan, well...anggap mereka tak ada sajalah. Beberapa pelayan menyambutku dengan ramah sembari berkata, "Untuk berapa orang mba? Oh iyaa, ada menu special hari ini untuk anda dan pasangan anda, waffle coklat stroberi berbentuk hati akan diberikan secara gratis untuk setiap pasangan yang hadir di rumah makan ini, anda mau mengambilnya?"kata pelayan wanita itu dengan lantangnya dan sungguh membuat hatiku yang masih sakit menjadi semakin meremuk. Dengan senyum kecut aku menjawab : "Meja untuk satu orang saja mba, terima kasih." Dan si pelayan wanita tadi seperti mengerti isyaratku saja, ia seketika tak banyak bicara, mengantarkanku ke meja yang masih kosong, memberikan daftar menu, mencatat pesanan singkatku, mengulanginya lagi, dan pergi membuat pesananku. HAH!!! Akhirnya aku tak perlu menjelaskan panjang lebar mengapa aku kesini sendirian. Sebenanya jika ia mau mendengarkanku sebentar saja, ia akan mendapatkan jawaban ini dariku, "Iyaaa, pacar saya sedang sibuk dengan para wanitanya, oouuppsss...." Ha-Ha-Ha, anggap saja aku sedang tidak melucu.

Setiap orang disini sungguh membuatku iri, aku merasa mood-ku tak begitu baik. Lalu apa yang bisa aku lakukan? Laptop tertinggal di rumah, blackberry mati, well, aku hanhya membawa diriku saja, dannn...satu yang tertinggal, buku novel berjudul "Thousand miles away". Sebenarnya sama sekali aku tak punya hasrat untu membaca tapi aku kira jauh lebih baik aku membaca daripada harus melirik iri mereka yang berpasangan. Ku buka halaman 257 sesuai dengan pembatas buku yang sengaja kuselipkan untuk menandai. Kubaca paragraf demi paragraf, ada satu rangkaian kata-kata yang membuatku tersentuh.

"Tersenyumlah untukku, aku hanya ingin melihatmu tersenyum, bukan amarahmu. Aku butuh kau percayai, bukan kau curigai. Aku butuh keceriaanmu untuk mengisi hariku, karena itu membuat semangatku membara. Aku butuh dirimu yang tidak terlalu banyak khawatir, aku bisa menjaga diri sayang."

Sejenak aku tersentak, aku kembali membaca pesan singkat di handphone-ku, kata-kata itu sama seperti yang Jemmy katakan. Ahhhh....aku sungguh bodoh dan terlalu kekanak-kanakan, dia bukannya membeciku atau menjauhiku, dia hanya ingin aku bahagia saat hatinya juga sedang bahagia. Dan seketika itu juga, aku mengetik beberapa rangkaian kata-kata untuknya, "Sayang, maafkan aku yaa, aku janji akan mulai tersenyum untukmu, selamat bersenang-senang di sana."

Sabtu, 14 Mei 2011

The Randoming Night in Tough

Selebihnya mungkin memang aku yang bersalah. Jalan pikiran yang serba terpenuhi oleh mimpi-mimpi belaka tanpa ada kemauan untuk menjadikannya nyata dan hanya mengharapkan suatu kejadian tiba-tiba, mari kita sebut sebagai keajaiban.

Hssshhhhhh......mendesah, nafas yang keluar tiba-tiba menjadi sangat amat berat. Pikiranku tertutup oleh semua perbuatan yang sebenarnya tak perlu ku lakukan. Aku mengabaikan kemampuan diriku untuk tetap diam disaat aku sedang bersahabat cukup dekat dengan masalah. Aku terlalu banyak bicara, yaaaa....aku hanya cukup percaya diri bahwa semua orang akan menyukai semua ceritaku, kenyataannya berbanding terbalik, mereka bosan. Dan tolong maafkan saja.

22 tahun aku hidup, mungkin banyak hal yang kulewatkan. Aku membuang kesempatan belajar di negara asing karena aku sombong bahwa aku pasti akan diterima. Aku pikir aku cukup hebat berbicara dengan bahasa orang lain, yang nyatanya lembaga resmi menunjukkan padaku bahwa bekalku hanya 430, paraahhh....payaahhhh !!!! Apa? Apa yang menarik dengan mengikuti kegiatan lain di sekolah-sekolah? Aku pikir aku akan cukup pintar dan beruntung hanya dengan bekal menjadi anak baik di sekolah, pulang tepat waktu, tidur siang yang panjang, belajar teratur setiap pukul tujuh malam, dan kembali tertidur pukul sembilan malam. Hellllll yeaaaahhhhh, sekarang aku yang merasa sia-sia. Jobless for sure...!!

Tidaaaakkk, aku tidak sekalipun menyalahkan kedua orang tuaku mereka teramat sangat baik padaku, hanya aku yang tak pernah mampu mengelola peluang yang mereka berikan, terlalu mengikuti cara orang lain (baiklah biar aku jelaskan, aku cenderung tergantung dengan teman dekatku dan aku lupa bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk hidup, hasilnya aku menyesal menjadi orang lain dan mengabaikan diriku sendiri yang berteriak seperti sengaja dipenjara, KASIHAN), dan aku sangat pengecut sampai akhirnya menyadari  bahwa otakku KOSONG. Apa lagi yang pernah kusia-siakan? Banyak dan tak kan kuceritakan.

Well, tertinggallah aku dibarisan paling belakang, terlalu jauh untuk mengejar mereka semua yaang yaahhh...sudah sangat beruntung. APA? AKU TIDAK BERSYUKUR? Kalian salah, aku hanya menyelewengkan nikmat yang ku dapat dari Tuhan, karena aku terlalu sibuk membandingkan diri sendiri dengan ciptaan-Nya yang lain, SIAL !!! Tolong maafkan aku Tuhan.

Cukup untuk menjadi terlalu terbuka, mengikuti orang lain--ehemmm cara mereka (baca : bukan plagiat), terlalu perduli, dan terlalu sungguh sering menggunakan kata terlalu dalam setiap kata-kata kehidupan, well yeaahh abaikan tulisan ini, kalian tak akan pernah tahu.

Ada yang salah dengan diriku, satu komponen hati dan pikiranku yang sudah sangat usang dan perlu direparasi atau mungkin perlu diganti (aku harap tidak ada harga yang harus aku bayar), yaaahhh...Tuhan, ada yang salah dengan cara berpikir ini, cara hatiku menangkap sesuatu, dan cara keduanya menjadi seimbang.

Aku tak pernah menuntut setiap orang untuk baik kepadaku, karena aku terlalu "Curiga" pada mereka, katakanlah ini kesalahan luar biasa, cukup baik bila diartikan sebagai "Pemikir yang negatif", dan ini membuatku jatuh.

Aku sulit tersenyum, aku sulit bahagia secara ikhlas aku sulit menaruh setiap kata ikhlas dalam kamus kehidupanku, dan aku sulit menguasai diriku sendiri.

Apalagi yang membuatku begitu terbelit dan sulit melarikan diri? Cinta? Sejak kapan aku berani menyinggungnya? Baiklah, begini saja...

Aku tak mau memelihara traumaku akan cinta, kalian tahu? Dia adalah hal terindah yang pernah Tuhan ciptakan, tunggu...ini adalah cinta yang kumaksud, bukan lelakinya. Aku tak mau sepertinya yang menganggap cinta itu adalah suatu penyakit sehingga kau harus alergi jika mendengarnya. Baiklah aku mengaguminya karena dia begitu bersikeras memikirkan bahwa cinta adalah hal paling buruk untuknnya. Bagaimana bisa? Aku tak pernah memikirkan itu, dan JANGAN.

Cinta yang lain? Bukan, ini hanya cinta lama yang belum mampu aku lepaskan, kau tahu siapa pelakunya, cukup berada di barisan abjad terakhir. Butuh waktu lama untuk memutuskan bahwa aku benar-benar mencintainya, butuh waktu lama untuk memantapkan hatiku supaya tak goyah meski sang cemburu selalu datang tanpa alasan dan selalu membuatku mengernyitkan dahi ketika melihat hal-hal yang tidak aku suka. Maaf saya memang sangat pencemburu dan terkadang saya hanya bisa terdiam. Dan setiap detik yang berjalan yang kutanyakan hanyalah :"Kapan waktunya?"

Apalagi yang dapat dilakukan? Menangis? Terus sajalahhh...

Tuhan, ini rencanaku. Biarkan aku menjadi egois dengan diam tak mengeluarkan apapun yang ada dipikiranku, biarkan aku menjadi pribadi tertutup. Sekian dan terima kasih

with Love, Audrey!!

Selembar pernyataan pahit Audrey siap dipostingkan ke dalam blog pribadinya, ia tak pernah berpikir bahwa ia punya pikiran se-random itu. Ia tak pernah lepas berpikir apa bedanya ia dengan orang yang tak waras, yang tak normal? Seperti semua beban dunia berada tepat seimbang dikedua pundaknnya. KONYOL. Berani-beraninya dia melakukan itu, BERLEBIHAN.

Minggu, 10 April 2011

Jangan Pernah Meninggalkan

Aku sedang sungguh-sungguh merenungi nasibku. Melihatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dan masih berharap akan ada jalan keluar terbaiknya. Aku tahu mungkin ini hukuman bagiku karena menjadi pribadi yang egois. Bahkan mungkin aku satu-satunya wanita sombong yang berani mencintai kelebihanmu, hanya kelebihanmu, dan sangat menutup mata dengan sisi kekurangan yang engkau berusaha perlihatkan kepadaku. Ahhhh...akhir-akhir ini nafasku tampak begitu berat, kalau dipersilahkan untuk berlebihan, aku akan mengibaratkannya seperti sedang menghirup udara dengan berat lebih dari 100 tons. Mataku seperti hanya menatap kosong, kau tidak akan pernah melihat cahaya lagi, binar itu sekarang memudar sayang. Aku tak mampu hidup seperti ini...

Begitulah kira-kira apa yang ada dalam pikiran Marsha. Tak satupun dapat menjangkaunya, hanya Tuhan yang bisa.

Ini bukan pertanda dari hari akhir kan? Atau aku sendiri yang sedang merancang hari akhirku, entahlah. Menemukanmu dengan cinta yang lain mungkin tak akan pernah seburuk ini rasanya, dan aku kira itu bukanlah yang terburuk dari semua yang paling buruk. Kau benar-benar mukjizatku. Aku melupakanmu.

"Saya ini lebih parah dari anda lho mba Marsha, saya telah membunuh diri saya sendiri."kata seseorang di toko buku.

"Maaf?"

"Anda Marsha Salsabila penulis novel kisah nyata itu kan?"katanya lagi dengan senyum tulus.

"Yahh, begitulah, saya malah tidak pernah bangga mengeluarkan buku itu nyonya." Dari seluruh perhiasan dan riasan yang dia kenakan, sepertinya memang dia sudah menikah, lebih tepatnya seumuran ibuku.

"Jangan menyerah dengan cinta anda mba Marsha, saya mohon, dia membutuhkan anda."

"Bagaimana Anda tahu? Anda mengenal lelaki saya tidak."aku tersenyum kecil, sungguh menguatkan kata-kata ibu ini.

"Saya tahu Anda sangat mencintainya dari setiap kata-kata yang anda rangkai dalam buku novel anda. Dan hati kecil saya berkata bahwa Anda sangat tulus mencintainya."

"Tapi dia tidak mencintai saya nyonya."

"Anda salah, dia mencintai Anda dengan cara yang lain cara yang tidak akan pernah Anda tahu. Demi Tuhan, bukalah mata Anda mba Marsha, untuk apa dia tetap bertahan bersama Anda jika bukan karena satu alasan pasti bahwa ia sangat takut kehilangan Anda, dan lebih memilih mencintai Anda seperti ini daripada ia harus meninggalkan anda."

"Terima kasih telah menguatkan saya. Saya menghargai pendapat Anda." Aku segera bergegas akan meninggalkan nyonya itu, tapi tangannya menghalangiku.

"Mengapa Anda masih tidak yakin dengannya?"

"Saya...hanya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, saya rasa saya telah membuatnya sedih, saya telah melukai hatinya."

"Kalau begitu, sentuh hatinya lagi saja, dan kali ini dengan cinta yang lebih besar."kata nyonya itu.

"Saya sudah berusaha, namun sepertinya lebih buruk nyonya, saya ingin menyerah saja. Terima kasih sarannya."

"Anda keberatan jika harus mendengarkan kisah saya?"

"Tentu nyonya." Kami memutuskan untuk pergi ke cafe sebelah toko buku ini, dan duduk dengan nyaman di sofa sudut cafe. Mungkin aku sedikit gila atau bagaimana, aku biarkan isi hatiku terbaca jelas oleh nyonya asing ini, atau mungkin tidak terlalu asing, aku seperti pernah melihatnya, namun entah dimana.

"Saya pernah mencintai seorang lelaki berhati malaikat. Saya rasa saya terlalu berani mencintai orang yang tak pantas jika bersanding dengan saya. Semua kesempurnaan hidup yang ia punya, membuat saya seperti orang yang sangat bodoh karena sekali lagi saya menjatuhkan hati saya untuknya. Perkenalan yang begitu singkat, dan perjalanan cinta kami yang penuh dengan ketidakpastian membuat saya terus bertanya-tanya dalam hati, apakah dia benar-benar menginginkan saya, atau hanya ingin bersenang-senang saja bersama saya. Saya mulai jenuh dengan segala ketidakpastian ini, saya mulai bertanya padanya kapan dia akan menikahi saya, dan jawaban yang sangat menyakitkan hati saya, ia berkata : "aku yang tak pantas bersanding denganmu wahai nona yang cantik jelita. aku sedang sekarat dan sakit parah." Saya sangat hancur ketika mendengar dia sedang sakit parah, dan bodohnya saya ketika saya benar-benar pergi meninggalkannya di saat dia sedang sekarat. Perpisahan dengannya tidak membuatku dengan mudah melupakannya, tiga tahun berlalu begitu berat, saya merasa sangat kosong dan hampa, saya sudah hancur. Lalu mata batin saya terbuka lebar, seharusnya saya mendampinginya ketika ia sekarat, bukannya malah pergi menjauh darinya karena seperti tidak bisa menerima penyakitnya. Saya pergi mencarinya dan pada akhirnya setelah sebulan penuh mencarinya..."

Nyonya ini seperti menahan air matanya, mendadak suaranya lirih, bibirnya terkatup, tertunduk, dan air matanya tumpah membasahi pipinya yang masih merona. Sangat iba melihatnya, aku memberinya selembar tissue dari dalam tasku, dan terdiam.

"Maaf membuat Anda terjebak dalam curhatan hati saya mba Marsha..."

"Tidak masalah nyonya, Anda bisa melanjutkan kisah Anda kapanpun Anda siap nyonya, aku menunggu."kataku kemudian, aku mulai tertarik dengan setiap kata-kata cerita yang ia rangkai.

"Baiklah...saya lanjutkan. Dia ternyata sudah setahun lebih meninggalkan dunia ini, dan saya merasa bersalah karena surat terakhir yang ia titipkan kepada teman prianya berisi : "aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu, aku berjuang sembuh hanya untukmu, dan ketika aku telah sembuh dari sakitku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah bertemu denganmu lagi, oleh karena itu aku meminta Tuhan untuk mengambilku saja dan meminta-Nya menjagamu dengan siapapun kau bersanding nanti. Aku mohon, kenanglah aku sebagai seseorang yang berarti dan pernah membuat pelangi kecil dihatimu." Begitulah kira-kira kisah saya, dan inilah mengapa saya yakin Anda mampu menemaninya, mampu menemani hidupnya saat sehat maupun sakit. Dan dia memang sangat mencintai Anda, percayalah Marsha."kata nyonya itu lagi.

"Terima Kasih nyonya, kisah Anda sungguh menyentuh hati saya, dan sangat menguatkan saya."

"Pergilah sekarang Marsha, temui dia, genggam tangannya dan katakan padanya bahwa kau akan selalu ada bersamanya dikala sakit ataupun sehat, biarkan dia tahu bahwa ada yang masih mencintainya meski dia sedang sakit sekalipun, jangan buat dirimu menyesal dan merasa bersalah seperti saya ini."

Entah mengapa kisah nyonya itu telah menggugah hatiku, membuatku sangat yakin bahwa aku memang harus ada untuknnya. Aku seakan berlari sekencang-kencangnya ke arah lelakiku. Dan memeluknya erat sambil berkata...

"Wahai lelaki yang baik hatinya, yang mulia dijalan Allah SWT, aku janji aku akan selalu ada untukmu di saat senang dan susah, saat kau sakit atau kau sehat, dan mencintai kekuranganmu lebih di atas segala kelebihan yang kau punya. Demi Allah, mulailah jujur kepadaku atas semua yang terjadi padamu. Aku mencintaimu karena Allah SWT."

Aku hanya mendapatkan belaian hangat dari tangannya di kepalaku, ia tersenyum dan kembali memelukku dengan hangat, dan bagiku itu adalah jawaban yang sangat cukup darinya. Aku bahagia.

Kamis, 03 Februari 2011

Jembatan untuk Jejak Hati dan Jalan Pikiran...

-Masih Berdebat-

Haii, panggil aku Gadis, yaa, orang tuaku yang sangat baik itu memberiku nama Gadis Ayunindya. Kalau boleh untuk sedikit berbagi tentang aku, maka inilah aku. Aku bukanlah wanita yang mengidap penyakit autis, atau semacamnya. Aku pun bukan seorang wanita gila, bukan pula seorang wanita yang punya keahlian khusus atau tepatnya anugerah khusus yang diberikan Sang Maha Pencipta, mungkin kita sering menyebutnya seperti indra keenam. BUKAN !!! SAMA SEKALI BUKAN !!! Aku hanyalah gadis biasa.

"Ahhh....bisa-bisa aku jadi orang tidak waras kalau lama-lama begini. Ya Tuhan...ini anugerah atau apa ? Atau mungkin memang aku saja yang tidak normal ?" kataku lirih. Percaya atau tidak, aku sering sekali bisa mendengar perdebatan yang sangat sengit dari dalam diriku. Sesuatu yang tidak wajar dan mungkin aku bisa jadi orang yang tidak waras. Perdebatan antara pikiran dan hati yang ada di dalam tubuhku. Tidak pernah sekalipun aku mendengar mereka sama-sama saling mengerti, yang ku dengar setiap harinya adalah perdebatan yang luar biasa membuatku lelah. Ingin sekali rasanya aku meneriaki mereka dan berkata, "Cobalah untuk saling mengerti, lakukan paling tidak untukku saja, aku ingin bahagia !!" Ahhhh.....

"APAAA !!! Jangan melihatku seperti itu, aku benci tatapanmu !" kata Hati.

"Dasar Kau, hanya bisa menangis. Dapat untung apa kau dengan menangis HAH !!" bentak Pikiran.

"Kau.....memang tak punya perasaan. Aku sedang sedih, aku sedang ingin menangis. Aku tahu kau hanya iri, karena kau tak punya persediaan air mata !!! Dan jarang diberi tugas oleh Gadis "Majikan" kita. Pergi dariku..."kata Hati lagi dengan mata merahnya.

"Memang aku tidak punya. Dan aku bangga-bangga saja, toh aku punya LOGIKA, dia yang membuatku kuat dan tidak lemah, tidak seperti kau !!!"kata Pikiran.

"Kau tahu tidak kalau logika-mu itu membuat perasaanmu seperti batu. Aku hanya heran saja padamu, kau keras seperti batu, tidakkah sedikit saja kau ingin menangis, tidakkah sedikit saja kau ingin merasakan yang namanya punya PERASAAN ?" kata hati lagi, masih dengan mata berbinar.

"Jangan mengajariku macam-macam, kau hanya sesuatu yang lemah. Aku diciptakan memang hanya untuk menjadi PIKIRAN, aku berpikir dengan LOGIKA yang Tuhan anugerahkan, dan aku dilindungi oleh OTAKKU. Dan bagaimana denganmu ? Bisa kau jelaskan semua tentangmu hey Hati ??"kata Pikiran.

"Sungguh keterlaluan kau. Aku juga tidak kalah hebat denganmu. Aku adalah hati, aku punya perasaan, aku diciptakan Tuhan untuk bisa merasakan sedih, menangis, galau, terpuruk, patah hati, dan bahagia."kata hati.

"Hey hati, mengapa dari banyak tugas-tugas yang diberi Tuhan untukmu kau hanya mampu menyebutkan satu bentuk rasa positif ? Hanya bahagia saja, mana yang lainnya ? Kau tidak adil, kau hanya menyebutkan satu di antara banyak hal-hal positif. Aku tidak mendengar kau ucapkan si Tawa, si Senyum, Si Jatuh cinta, Si semangat, dan masih banyak lagi lainnya. Sedangkan kau begitu bersemangat dengan semua hal-hal negatif. Apa kau tidak lelah menangis ? Aku rasa air matamu sangat terbuang sia-sia untuk hal yang tak begitu penting menurutku."kata pikiran.

-Jembatan untuk mereka itu ternyata aku sendiri-  

Aku melongo, aku seperti tersentak, aku tak tahu bahwa pikiranku sebenarnya memberontak. Kenapa aku tak memikirkannya sejak dulu ? Yang ku tahu hanyalah kesedihan, mana kebahagiaan yang ku gembor-gemborkan kepada orang lain ? Sungguh aku hanya omong kosong belaka. Mengapa hatiku begitu rapuh ? Seolah sangat mudah berdarah dan terluka, sudah ku obati lukanya, lalu kubiarkan terluka lagi. Aku tidak adil, aku tidak pernah mempercayakan hidupku pada si Pikiran yang jelas-jelas dia menawarkan logika yang luar biasa indah, yang bisa membuatku menertawakan hidup ini, bukannya malah ditertawakan oleh hidup. Aku rasa tugas hatiku telah selesai, saatnya dia untuk beristirahat dan tidak terlalu banyak menanggung beban. Sedikit terdiam sejenak, lalu aku berkata pada si Hati dan Pikiran.

"Heyy teman-teman terbaikku, terima kasih telah menemani hidupku selama ini, aku bukan apa-apa tanpa kalian, namun aku merasa sangat tidak adil sebagai "Majikan" kalian. Aku terlalu banyak membebankan semua hal padamu yaa Hati ? Dan aku malah tidak pernah sedikitpun mempercayaimu yaa Pikiran ? Padahal, seharusnya semua ini berjalan seiring dan saling mengimbangi. Heyy Pikiran, aku tak pernah tahu bahwa ternyata, sekeras apapun kau dengan hati, tapi sebenarnya kau hanya ingin menghadiahkan pada hati, terutama padaku, sekotak besar logika-logikamu yang akan membuat kami bahagia. Dan kauuu Hatii, kau sangat perduli padaku, kau membuatku bertingkah sangat lembut dan manis selayaknya wanita keibuan kebanyakan. Kau hebat, karena kau aku lebih banyak bisa ber-empati atau bahkan ber-simpati pada orang lain, pada banyak orang terutama. Tapi kau tahu, kau terlalu baik memperlakukanku, sampai aku tidak mampu membedakan mana orang-orang di dunia ini yang benar-benar baik untukku, dan mana yang hanya "bertopeng" saja. Mungkin sudah waktunya kita saling bekerja sama untuk hidup yang lebih baik. Kau hati, kau punya tugas 50% untuk hidupku, dan Kau pikiran, aku memberikan kau 50% juga untuk selalu memberikan logika-logika hebatmu. Bagaimana menurut kalian?"kataku ketika berdiskusi pada mereka.

"Aku setuju saja, mungkin saatnya aku untuk berbagi dengan si Pikiran, aku tidak akan menganggap dia jahat lagi, dia bukannya keras, dia hanya ingin memberikan yang terbaik, dia ingin membuatmu sebagai wanita yang kuat, tidak mudah diinjak-injak orang lain."kata si Hati sambil tersenyum pada si Pikiran.

"Naahh, akhirnya kau sadar juga Hati, bahwa aku tak pernah punya maksud buruk. Aku hanya ingin "Majikan" kita ini bisa sedikit berpikir logis untuk setiap masalah yang ia terima, terkadang berpikir denganku melalui logikaku, tidaklah buruk hasilnya, percayalah."kata si Pikiran membalas senyum si Hati.

"Okeeyyy, aku sangat lega. Selamat bekerja sama teman-teman, mari kita buat hidup ini lebih berharga dengan kebahagiaan yang memang pantas kita terima."kataku kepada mereka.

-Selesai-

Sabtu, 08 Januari 2011

Pangeran Berkuda Putih dan Princess Languish

Pukul 3.45 sore hari...

Hujan, seharian mendung sekali langitnya, heyy...tak adakah secercah cahaya saja untukku ?? Sedikit cerah tidaklah buruk kawanku matahari. Hemmmm......ku hela nafas panjang sebelum aku mulai benar-benar bercerita. Huufftthh....nafas panjang kedua kembali kuhembuskan. Ruangan ini hening sekali, yang ku dengar hanyalah suara pendingin ruangan, desahan nafas mesin ketikku, dan bunyi gendang di perutku (haii perutt, maaf kau harus telat kuberi makan, aku sedang tidak nafsu makan!)

Tikk....tokk....tikk....tookkkk......jam dinding di kamar juga ikut-ikutan bunyi, detiknya jujur saja sangat menggangguku.  Beberapa jam dari sekarang akan ada yang menjalani sebuah event besar. Dia termasuk orang penting dalam hidupku. Seberapa pentingkah dia ?? Aaaahhh...sudahlah, biarkan aku, pikiranku, hatiku, dan yang Maha kuasa yang tahu. Yang pasti...dia memang penting.

Sedikit mengintip dari balik pintu kamar, sang empunya istana masih berlalu-lalang diam seribu bahasa. Nyanyian nyaring beberapa jam yang lalu masih membuat telingaku berdenging. Yaaa....sang empunya istana baru saja bernyanyi dengan sangat lantang, jenis lagunya kali ini terdengar lebih metal dan underground.  Sedangkan isi lirik lagunya kira-kira begini..."Sudahlah, kau tinggal di dalam istana saja, kau baru saja cedera, dan ingat sebentar lagi kau harus ikut perang terakhir."

Aaahhh......terlalu merdu lirik dan lagunya. Istana ini sungguh terlalu ketat. Beri aku sedikit ruang untuk bergerak, bahkan untuk membunuh nyamukpun aku mungkin tidak bisa. Aaaaahhh....terlalu ketat peraturan istana ini. Sudah ada dalam bayanganku, pangeran sedang berlaga dipacuan kuda. Ia khusus memintaku datang untuk melihatnya bertanding, pertandingan besar.  Kupikir aku akan menyanggupinya, namun ternyata, sudah kesekian kalinya aku berkata "Tidak" untuk suatu alasan bahwa aku memang "Tidak Bisa" karena tak dapat ijin sang baginda Raja.

Aku mungkin putri yang paling jahat, sudah berpuluh-puluh kali tak satupun mampu kupenuhi pintanya. Kalian tahu, ini yang membuatku sedih, sungguh sangat sedih. Kastil ini terlalu kokoh, terlalu ketat, terlalu tinggi, terlalu banyak aturan. Dan aku harus siap mengirimkan burung hantu lagi padanya, bahwa aku tak bisa melihatnnya bertanding. Sungguh menyedihkan !!!

Aku robek perkamen yang ada, ku celupkan kuas ke dalam tinta hitam, dan mulai menulis.

"Hayy pangeran berkuda putih...terima kasih atas undangan pertandingan kudanya. Untuk beratus-ratus kalinya, aku menyesal tak mampu membahagiakanmu, untuk kesekian kalinya lagi-lagi aku harus berkata tidak bisa. Maafkan aku, aku janji aku akan menggantinya lain kali. Aku tahu kau pasti bisa dn pasti menang, ada ataupun tak ada aku, kau sudah juara untukku, kau masih yang terbaik. Doaku bersamamu pangeran berkuda putih. Salam...Princess Languish"

Ku selipkan perkamen coklat itu ke jari-jemari sang burung hantu putih, ku bisikkan padanya kemana ia harus pergi, dan ku melepaskannya.

Menunggu kabar dari pangeran, tak kunjung datang, tak kunjung tiba perkamen balasan untukku. Baiklah, ini salahku. Humfffhhhh..............nafas panjang ketiga kali ini sedikit tersentak, karena tiba-tiba burung hantu putih tadi hinggap dipundakku dengan membawa perkamen kecil mungil berwarna merah jambu.

"Wahaiii Princess-ku, aku sungguh kecewa karena kau tak datang. Ini sungguh usahaku untuk yang kesekian kalinya supaya kita bisa bertemu. Tetapi tenanglah, aku tahu keadaanmu, aku sungguh mengerti walau aku kecewa. Doamu sungguh luar biasa berguna untukku. Aku akan menunggumu selalu, My dearly Princess."

Ku seka air mata yang tiba-tiba menetes, aku tak tahu sudah berapa banyak kesalahan ataupun kekecewaan yang kubuat, dan pada akhirnya, ia selalu bisa memaafkan dan mengerti. Sungguh yang Maha Kuasa, kapan cobaan yang satu ini dapat berakhir dan kulalui. Sungguh aku selalu ingin ada di sampingnya, di sisinya, ketika ia membutuhkanku.

-To be continued-

Rabu, 29 Desember 2010

Saat Tuhan Berbisik

Jika kau bertanya padaku seberapa bersyukurnya aku atas hidup ini, maka aku akan menjawabnya dengan bangga..."Sangat bersyukur bahwa Tuhan memberiku DIA."

Hanya berusaha mengingat beberapa tahun yang lalu, aaahhh....waktu itu lucu sekaliii !!! Sembari menyeka air mata, tertunduk lesu dengan senyuman tipis...hanya bisa bergumam "Tuhan, aku rindu dia. Sungguh, tolong ijinkan aku pergi ke masa lalu, aku janji aku akan memperbaiki semuanya." Aku tak mendengar jawaban apapun dari Tuhan, yang aku dengar hanyalah isak tangis lirihku yang ku harap tidak akan ada satu orang-pun yang mendengarnya. "Mengapa secepat itu harus berlalu? Bahkan aku tak sanggup untuk ucapkan selamat tinggal." Tuhan masih saja diam, sedangkan aku tetap tertunduk lesu.

"Tuhan....tolonglah....!!"

"Tuhan, bagaimana ??"

"Tuhan, bolehkah ??"

"Tuhan, aku sungguh memohon pada-Mu."

"Tuhan...baiklah, bisikkan aku sesuatu."

Memejamkan mata sejenak, berusaha keras berkonsentrasi, berusaha mendengarkan bisikkan Tuhan ke telingaku yang kurang peka ini.  Aku masih belum mendengar apapun, semakin sunyi, namun semakin basah saja pipiku.  Berusaha lebih kuat lagiii....lagiii, dan lagiiiii....! AKU TERSENTAK !!!!

"Aaahhhh...aku lupa mematikan telpon selulerku..." (sambil membuka apa yang membuat telpon seluler itu berdering.)

Sedikit membelalakkan mata, sungguh sangat terkejutt.  Menutup mulut tiba-tiba, menutup mataku lagi secara perlahan, tak perduli seberapa banyak air mata yang terus menetes.

"Inikah bisikan dari-Mu?"

Dan Tuhan-pun menjawabnya, ia memberiku jawaban yang sungguh indah. Tidak, aku justru percaya sesuatu yang pahit tadi adalah awal kebahagiaanku mungkin. 

"Astagfirullahaladzim..."

Aku rasa ini jalan yang terbaik...Tuhan maha adil dan Indah, terima kasih Tuhan....

"Alhamdulilah..."

Sabtu, 10 April 2010

Menjelang tengah malam...

Malam berikutnya...

Menjelang tengah malam, hanya bertemankan sebuah laptop hitam dan bayanganmu yang terus saja menghantui pikiranku...

Bukan untuk bermaksud terus saja memikirkanmu, tapi lebih kepada menuruti apa yang hati ini mau. Seperti burung yang tak bersayap-satu sayapnya patah-ketika satu hari saja aku tak mendengar kabar darimu. Dan seperti ibu peri yang kehilangan tongkat saktinya dan tak tahu apa yang harus diperbuat.

Hemmmm.....hahahahahahhh......sedetik kemudian tawa renyahku muncul, membuat dahi saudara perempuanku berkerut, yang sudah bisa dipastikan dia berkata, "What the hell..." Terserah saja apa kata mereka yang menganggapku gila dan autis, karena aku tak pernah bisa terlepas dari kisah-kisah romantis yang terjadi di dunia ini. Aku bangga menjadi seorang yang romantis dan mellow abis. Membuat imajinasiku melambung tinggi, hingga membawaku padamu :)

Sedetik kemudian....kukerucutkan kembali bibirku hingga ku timbulkan mimik anehh di wajahku sendiri. Aaahhh....ini lagi yang terpikir olehku. Lagi...dan lagi...!!!! Aku tak bisa lepas dari ini. Semuanya seperti serba terkait, aku kesal...aku ingin meluapkannya, namun.....sekali lagi...aku masih hidup dalam cerita dongeng bagaikan putri-putri cantik beserta sepatu kacanya yang menunggu sang pangeran untuk mengatakan...YA...KAULAH SEORANG PUTRI YANG HILANG DARI HATIKU, DAN KINI...KU MENEMUKANMU...!!! :)

Love Me More,

Luci

Minggu, 04 April 2010

semangat malam ini mulaii tumbang...

For sure...for the rest of my life...the hardest thing is....when I forget your position in my life. How come ?? Don't know why...

Malam ini sengaja ku buka jendela kamar tidurku, tak biasanya ku lakukan ini-bisa dibilang hampir tidak pernah ku membuka jendela kamarku-hemmm. Apa ????? Aku tidak melihat keindahan malam ini menyapaku. S.I.A.L !!!!!! Apa-apaan ini ?? Mana bintang itu ?? Mana bulannya ?? Aku hanya melihat sang hitam legam di atas sana dan hembusan angin dingin yang serasa membuat tulang-tulangku bergetar. Sambil setengah bergidik, aku menutup kembali jendela kamarku. Yaahh....aku kembali kecewa lagi malam ini. Tak ada satupun yang menyapaku. Tertunduk lesu...dan gontai, kembali ke depan laptop-ku.

Sudut ini lagi...sudut ini lagi. Aku bosan sekali. Hemmfhhh....tak ada yang istimewa se-istimewa kau di hidupku, dan tak kudapatkan yang lain selain dirimu...DAMN !!!!

Kali ini...aku memutuskan untuk melarikan diri (lagi)...seakan tak mampu berkata-kata (lagi).

What's The morning's thought...

I still feel confuse for those people who never appreciate for the love that they have...

Sapaan di pagi hari. Haiii....semalam tidunya nyenyak sekali. Mungkin dan seharusnya pagi inii aku tersenyum bahagia. For no reason !!!!!

Semalam suntuk aku cukup berkutat dengan semua masalah-masalahku. Tanpa penyelesaian yang pasti, for sure...semua masalah ini masih menumpuk dan belum terselesaikan barang sedikitpun. Aku...sungguh pengecut. Yaaahh....itulah aku. Aku menyelesaikan masalah-masalahku dengan tidur. Meninggalkannya di atas meja, membiarkannya tetap terpampang beku di dalam file-file folderku. Hemmffhhh.......belum ada penyelesaiannya. Meminta sang sahabat-sahabat terhebatku untuk menyelesaikannyapun serasa tak mungkin. Aku bukan anak kecil yang harus selalu meminta saran mereka, atau bahkan hanya sekedar menanyakan pendapat mereka dengan pertanyaan-pertanyaan bodohku, yang aku sangat yakin bahwa jawaban mereka adalah..."aku tidak tahu, karena aku tidak tahu tentang dia bahkan tak mengenalnya. bisakah kau memikirkannya sendiri ?? aku sangat lelah menjadi pendengar semua cerita-cerita basimu. maafkan aku yaa."

Yaakkhh.....cukup tahulah apa yang ada dipikiran mereka, meski aku hanya menerka-nerka. Tapi mereka cukup baik buatku, mereka tidak menunjukkan itu semua. Hanya senyum kusut yang ku lihat. Terima kasiih yaa....seenggaknya aku tidak sendirian.

Lagi-lagi terulang lagi. Aku terbangun dari tidurku, namun seakan ingin membaringkan tubuh ini lagi ketika aku melihat laptopku terpaku diatas meja itu. Aaaahhh........mengapa susah sekali mengerti apa makna hidup ini ??-pikirku dalam hati.  Bukan maksudku untuk tidak bersyukur ya Tuhanku. Hanya saja...semua seperti sia-sia saja apa yang aku lakukan ini. Bukan meminta balasan yang muluk-muluk. Hanya meminta satu hal itu saja. Dia untukku.

Aaaahhhh........pikirann itu muncul lagi. Pikiran buruk atau pikiran menyenangkankah itu ?? For some reason...I feel very happy to think about this. But....I don't wanna this is become a weapon for me.

Hemmffhh....sedikit tercekik dengan kata-kata tadi. Aku berusaha melupakan itu (lagi), jika bisa dihitung, kali ini mungkin sudah menjadi pikiran ke seribu kalinya. Yaaah...jika boleh jujur dan blak-blak-an, aku ini memang pemimpi besar. Impianku terlalu banyak tak terkecuali impian bersamanya (mungkin sudah melebih 10000000000 followers). Woot ???

Serasa sangat berat kepala ini. Aku-pun dengan enggan beranjak dari tempat tidurku, singgasanaku yang abadi. Sedikit dengan langkah gontai, aku putuskan untuk membuat badanku menjadi wangi kembali setelah beberapa jam "STAY" di pulau kapuk. Aku bukan gadis centil yang perlu berjam-jam melewati satu jam berharganya hanya untuk bereksperimen di tempat basah yang bernama kamar mandi. Cuma butuh 15 menit dengan kondisi pikiran acak kadut dan muka yang sangat kusut karena satu hal itu. Sedikit mengerikan memang kedengarannya, tapi ini kenyataan.

Lalu....secangkir coklat panas telah siap di atas meja makan beserta 2 lembar roti tawar berisi selai blueberry. Aku melirik ke kanan dan ke kiri, namun yang ku temukan hanyalah rumah yang kosong tidak berpenghuni. Ku lihat jam besar di ruang tamu yang ternyata telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kali ini, aku telat menyapa semua penghuni rumah ini (lagi). Yasudahlah...ternyata pikiran ini seperti benang kusut saja, hingga membuatku sangat kusut, bahkan untuk bangun pagi sekalipun. Belum ada penyesalan dariku.

Hujan pagi ini kembali membuatku merasa sendiri, terdiam, dan seakan terpuruk. Tanpamu...apa yang akan aku lakukan ?? Ingin rasanya menerobos dinginnya pagi ini bersamamu, membuat matahariku sendiri bersamamu, dan membuat dunia ini hangat lagi karena senyum kita (lagi).

Love Me More,

Luci

Sabtu, 03 April 2010

Next part...



blessing...blessing...I was blessing to be a wonderful girl...WOOT ???

terbanguun ditengah-tengah mimpi yang begitu sempurna, mimpi berada disampingmu. kini ku benar-benar terbangun. sambil mengusap air mata, aku terus saja menerawangi setiap sudut kamarku, melihat lurus ke arah jendela kamar, membukanya perlahan, dan sejenak menghirup kesegaran udara pagi.

Tuhan...yang kau ciptakan ini sungguh begitu indah. menghela nafas panjang...sambil kembali menatap satu sudut favoritku. Fotonya tersusun rapi diatas meja riasku berwarna merah maroon. Foto kami berdua sungguh begitu mesra. Senyumku sedikit tersungging...yaah, sepertinya sudah lama sekali aku lupa untuk tersenyum. Ku lihat lagi fotonya...senyum itu tulus sekali-pikirku. Aku sungguh merindukan senyum itu Tuhan. Mengapa ia begitu dekat namun serasa begitu jauh dariku dan begitu sulit ku rengkuh ?? Ingin ku memeluknya erat sambil berkata...don't ever let me go, and never ask me to escort this hug into you. Tetapi...sungguh tak mungkin sekali.

Teringat sekali olehku ketika pertama kalu senyum itu menyapaku. Namun aku hanya sanggup membalasnya dalam hati, yaaa...aku memang tersenyum, tetapiii hatiku yang terdalam sungguh berbunga-bunga. Bukan mobil mewah yang pertama kali aku liat kala itu, namun malaikat tampan yang ada di dalam mobil itu yang membuatku terpukau, meski jujur saja, aku harus menunggunya selama berjam-jam. Namun rasa bosan dan kesal itu terbalaskan hanya dengan senyum satu menitnya itu dan sepanjang hari bersamanya. Sungguh lucu sekali ketika ku harus memasang tampang bututku ketika menunggunya terlalu lama, dan itu semua berubah seketika...berubah karena ia datang tergopoh-gopoh dengan senyum termanisnya. Aku...sungguh senang, senang ini sungguh nyata.

Tawaku mulai sedikit timbul, seperti kegelian sendiri, aku menatap wajahku di cermin. Sudah berapa lama aku lupa kesenangan yang alamiah ini ?? Seketika wajahku kembali muram. Entah untuk alasan apa, namun aku sungguh merasa sangat kusut (lagi) sekarang ini. Ku tengok lagi wajahnya di sudut itu, dia masih sama, sama tampannya, sama baiknya, seperti dulu. Hanya sedikit perbedaan yang begitu nyata dan menyakitkan darinya.

Lelah memikirkannya...dan aku kembali berbaring lemah di tempat tidurku.

Nothing I can do...just stare him in that corner....

Love me More,

Luci

tears...in saturday night...

i do i just nothing and nobody in your eyes, but something that you have to know that...YOU ARE MY EVERYTHING.

bukan akuu bila harus blak-blak-an mengatakan semua isi hatiku,
bukan aku bila aku selalu tak ada untukmu,
bukan aku bila tak selalu ingin tahu keadaanmu,
bukan aku jika akuu tak merasa senang melihat wajahmu,
dan bukan aku jika tak selalu merindukanmu setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, bahkan mungkin setiap detik sekalipun.

Tuhan menciptakan setiap manusia dengan pasangannya masing-masing, kini ku hanya sanggup menerka-nerka apakah kau yang dikirim Tuhan sebagai kado terindah untuuku ??

Hanya waktu yang bisa menjawab.

jujur saja yaa...sekarang ini hati saya sungguh hampa, entah kenapa...seperti seloyang strawberry shortcake yang kekurangan gula sebagai penambah rasa manisnya. hemmffhh....sungguh dramatiss yaaa. di saat banyak orang-orang yang merestui kami dan tersenyum melihat kami bersama, tetapi ternyata dibalik itu semua, kita berdua hanya bisa saling menatap dengan tatapan kosong, jika bisa dibuat dialog mungkin seperti ini :

"sebenarnya, ada apa dengan kita ?"katanya
"kitaa...??"kataku...sembari tersenyum. dan jawaban abstrakku, seakan menyiratkan, kita seharusnya memang ada sesuatu.

bukan aku atau dia yang bodoh, percayalah. ini hanya rasa yang sangat aneh namun cukup membuatku senang. kau yang selalu melukiskan senyuman indahmu untukku di canvasku yang masih saja abu-abu, dan kau ubah itu menjadi lukisan pelangi. dan aku, disini hanya sebagai empunya canvas abu-abu itu, hanya mampu terkagum-kagum dengan torehan indahmu itu, dan dalam hati aku berkata...sungguh indahnya dirimu itu...!!!!

beberapa jam berlalu...masih saja aku penuh harap. hemffhh...keluhanku kali ini membuat air mata-ku menetes ya Tuhan. tolong dong...obatinn rasa sakit inii, lukanya parah banget deeh. aku nggak kuat, tapi akuu nggak mau dia tanya padaku..."kamu kenapa ??" satu kata tanya ithu sungguh membuat hatiku teriris, karena dibalik ithu semua...dia nggak mau lihat kesedihanku. hheeemmm......aneehh yaaa ????

berpikir lagi...berpikirr lagii....berpikir lagi....
yasudahlah....mungkin aku banyak kurangnya dimata kamu. aku bukan miss model super sempurna yang sangat indah menggunakan gaun pesta beserta sepasang heels di kedua kaki mungilnya, sama seperti apa yang kau harapkan.

kalau kau ingin tahu...hatiii ini jauh lebih indah dari sekedar sang model super sempurna dan heels yang ia kenakan. aku....istimewa dengan caraku sendiri. aku berharap kamu tahu itu.

-------sekedar mencurahkan isi hati yang sedang abstrak, buat yang baca mungkin rada bingung apa maksudnya, tapiii.....ini persis kayak apa yang ada dihatiku---------

Love Me More,

Luci